Senin, 15 September 2008

Scooter Libby

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Lewis "Scooter" Libby
Lewis "Scooter" Libby

I. Lewis "Scooter" Libby Jr. (lahir 22 Agustus 1950) adalah seorang pengacara Amerika dan mantan pembantu utama Wakil Presiden Amerika Serikat Dick Cheney. Libby adalah Kepala Staf Cheney dan Asisten Wakil Presiden untuk Urusan Keamanan Nasional dari 2001 hingga 2005. Kehadirannya yang terus-menerus di belakang layar dalam pemerintahan Bush membuat ia dijuluki sebagai "Dick Cheney-nya Dick Cheney."[1][2]

Pada pemerintahan George H. W. Bush, Libby bertugas di Departemen Pertahanan sebagai wakil utama di bawah sekretaris (Strategi dan Sumber-sumber), dan belakangan dikukuhkan oleh Senat sebagai wakil untuk kebijakan di bawah menteri pertahanan . [3] Libby dianggap sebagai tokoh utama dalam gerakan neo-konservatif. [4][5][6]

Pada 28 Oktober 2005, Libby melepaskan jabatannya di pemerintah, beberapa jam setelah dikenai tuduhan oleh Kantor Penasihat Khusus Departemen Kehakiman Amerika Serikat sebagai bagian dari investigasi juri agung tentang kebocoran CIA tentang bagaimana Valerie Plame dibongkar penyamarannya sebagai pegawai CIA. [7] Pada Januari 2006 Libby bergabung dengan Hudson Institute sebagai penasihat senior, dengan fokus pada "masalah-masalah yang terkait dengan Perang melawan Teror dan masa depan Asia." [8] Peradilan Libby atas affair Plame dimulai pada 16 Januari 2007.

Masa kecil dan keluarga

Libby dilahirkan di New Haven, Connecticut [9] dalam sebuah keluarga Yahudi [10][11] dan dibesarkan di Florida. Ayahnya adalah seorang bankir investasi yang sukses. Berbagai sumber melaporkan bahwa nama sebenarnya adalah Irving (atau bentuk singkatnya Irve atau Irv) [12] dan Libby telah memberikan keterangan yang berbeda-beda tentang asal-usul nama julukannya. [13] Setelah lulus dari Sekolah Eaglebrook dan Andover, sekolah berasrama yang eksklusif di New England, Libby lulus dari Universitas Yale pada 1972. Profesornya adalah Paul Wolfowitz yang merupakan mentornya dan menghasilkan pengaruh politik yang mendalam padanya. [14] Libby memperoleh gelarnya, Juris Doctor (J.D.), dari Sekolah Hukum Columbia pada 1975.

Libby menikah dengan Harriet Grant, seorang mantan pengacara staf untuk Komisi Senat untuk Keyakiman yang saat itu diketuai oleh Senator Demokrat Joe Biden. Libby dan Grant tinggal di McLean, Virginia dan mempunyai dua orang anak. [15] Saudara perempuan Libby, Sandra Libby, menikah dengan John Rendon, pemimpin Rendon Group, sebuah perusahaan hubungan masyarakat Washington yang bertanggung jawab atas pembentukan Kongres Nasional Irak.

Karier awal

Setelah lulus dari Columbia, Libby diterima untuk berpraktik di pengadilan Negara Bagian Pennsylvania pada 27 Oktober 1976, dan ia berpraktik di Philadelphia. Ia mendapatkan izin untuk berpraktik di Pengadilan District of Columbia pada 19 Mei 1978.

Libby mula-mula masuk dalam dinas pemerintahan di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada 1981, sebagai anggota dari Staf Perencanaan Kebijakan di Kantor Sekretaris departemen tersebut. Dari 1982 hingga 1985 ia menjabat di departemen itu sebagia direktur proyek-proyek khusus di Biro Urusan Asia Timur dan Pasifik. Pada pemerintahan George H. W. Bush, Libby bertugas di Departemen Pertahanan Amerika Serikat sebagai wakil utama di bawah sekretaris (Strategi dan Sumber-sumber), dan belakangan dikukuhkan oleh Senat AS sebagai sekretaris di bawah Menteri Pertahanan untuk Kebijakan. Libby adalah salah satu pengarang rancangan "Pedoman Perencanaan Pertahanan" bersama Paul Wolfowitz untuk Menteri Pertahanan Dick Cheney pada 1992.


Libby, yang diinterogasi oleh FBI pada musim gugur 2003, dan memberikan kesaksian di depan sebuah dewan juri agung Federal pada 5 Maret, 2004 dan kembali pada 24 Maret 2004, menyatakan bahwa ia sama sekali tidak bersalah atas tuduhan-tuduhan itu dan bahwa ia akan dibebaskan. Ia tidak mengomentari secara terbuka tentang kontradiksi-kontradiksi yang jelas antara kesaksiannya dan kesaksian orang-orang lain.

Libby mempertahankan pengacaranya, Ted Wells, dari kantor pengacara Paul, Weiss, Rifkind, Wharton & Garrison untuk mewakilinya dalam kasus ini. Wells terkenal karena berhasil membela Mike Espy, Menteri Pertanian Clinton dalam menghadapi 30 tuduhan, dan ikut serta dalam pembelaan yang cemerlang untuk Menteri Tenaga Kerja Raymond Donovan. Setelah menyangkal rencananya untuk memohon agar kasusnya dibatalkan, dilaporkan bahwa Libby akan memberikan kesaksian pada pengadilannya, [16] yang dimulai pada 16 Januari 2007.

si Maghrib

Perkenalkan si Maghrib, scooter (vespa) antik yang selalu mengantar kemana saja saya pergi. Kendaraan satu-satunya (saat ini) yang setia menemani. Si Maghrib, scooter kelahiran tahun 1972 ini umurnya jelas jauh di atas saya, saya masih terbilang grandong meski kadang merasa sudah cukup umur. Si Maghrib cukup kencang jika sudah berlari, kecepatannya sendiri ga usah ditanya. Namun jika sekali-kali mogok sih wajar, namanya juga scooter tua, kalo nggak mogok ya bukan vespa tua namanya :mrgreen: hehe.

Saya membelinya dari seorang teman satu tahun yang lalu (April 2007) seharga 950 ribu (lumayan murah) lalu langsung masuk kamar ICU (bengkel) untuk sedikit di modif, bagian belakang dibentuk layaknya scooter tahun 60-an karena tadinya saya nyari yang tahun 60-an (61, 63) tapi tidak juga nemu ya sudah yang ada saja (tahun 72) kemudian dimodif jadi tahun 60-an (setidaknya seperti tahun 60-an), knalpot dan handle racing (biar tampak garang), jok single fighter, lampu belakang Harley, ban 10 dan modif tambahan lainnya.

Setelah dihitung-hitung, tanpa terasa modifikasi habis sekitar 2.5jt. Ternyata harga beli jauh lebih murah dari pada harga modif, termasuk ganti cat dari berwarna kuning menjadi hitam legam dan warna itulah yang kemudian menginspirasi pemberian nama, si Maghrib.

Sebelum punya si Maghrib, saya tergabung di group motor touring Qashwa Adventure Team (jaketnya saya pake pada photo di bawah) bukan genk motor lho! tapi group motor touring! :mrgreen: hehe

Beberapa tempat rutin tujuan touring diantaranya Pangandaran, Pelabuhan Ratu, Ciwidey, Pangalengan, Subang, Sumedang, Majalengka dan kota lainnya yang jelas masih dalam lingkup provinsi. Tapi karena kesibukan masing-masing rider yang berjumlah 30 orang itu, kegiatan touring pun saat ini vacum. Cape dan lelah saat touring sudah pasti tapi indahnya di perjalanan itu yang membuat semua rasa penat lenyap.

Si Maghrib sendiri baru di bawa touring ke Ciwidey dan Pangalengan, terakhir touring ke Pangandaran namun sampai di Ciamis si Maghrib terpaksa harus masuk UGD (bengkel) dan langsung di operasi (turun mesin), karena penyakit masa tua kambuh lagi. Meski begitu kemarin sudah ada yang menawar 2.3jt, namun saya sudah terlanjur cinta si Maghrib dan tidak akan menjualnya meskipun saat saya sudah membeli Honda Tiger atau roda empat Honda New Jazz nantinya :mrgreen: teuteup… I Love si Maghrib!

Si Maghrib memang belum saya ikutkan ke grup scooter yang sudah ada semisal S.O.G (Scooter Owner Group) atau VAC (Vespa Antique Club), meski begitu saya tetap merasakan persahabatan antara pemilik scooter ini begitu solid. Lambaian tangan, sapaan akrab, anggukan dan senyuman biasa menghiasi saat pengendara scooter lain berpapasan dengan saya dan si maghrib. Jika ada kesulitan di jalan (mogok) mereka tidak sungkan-sungkan membantu malah sampai memberikan suku cadang jika diperlukan, dan itu pernah saya alami. Memiliki scooter jauh berbeda dengan memiliki kendaraan bermotor lain, tidak ada persahabatan yang indah antara pemilik kendaraan roda dua kecuali scooter, setidaknya itu yang saya rasakan.

So, sekarang sudah kenalan dengan si Maghrib kan…?

Nah, bagi blogger yang berada di Bandung atau kebetulan berada di kota kembang ini dan melihat si maghrib berkeliaran di jalan, jangan lupa untuk menyapa dan melambaikan tangan ya… :mrgreen:

SCOOTERIST BUTUH CINTA

10 TIPS AMPUH MENGAKIRI "JOMBLO"
Hallo temen-temen Bro Vespa semua, apakabar ?


Hari ini posting agak beda, yaitu tentang 10 TIPS AMPUH MENGAKIRI "JOMBLO". Artikel ini cocok karena Vespa Maniac masih didominasi Bro-Bro walaupun ada pula yang "Sister-sister" :)

Apakah anda termasuk kategory Bro yang sampai hari gini masih melajang? Padahal tampang OK, body 100, tongkrongan Vespa keren .. so what is the problem? Kalau ini yang terjadi pada anda, bersiaplah untuk mengakhirinya.

Caranya mudah, baca dan praktekkan 10 tips berikut. Saya bukan peramal, namun saya yakin usai anda mencoba 'jurus-jurus' ini para cewek bakalan 'tergila-gila'. Maka bersiaplah mengucapkan, "Selamat tinggal jomblo .. "


1. Jujur

Dengan cara yang tepat, bukan hal sulit membuat seorang cewek 'mendatangi' anda. Jika anda merasa telah bertemu dengan seorang cewek idaman, tunjukkan bahwa anda adalah pria jujur, sopan, sekaligus charming .. atau istilah gaulnya, anda tidak ada duanya deh.

Jika ia ingin sharing, curhat atau sekedar ngobrol, tunjukkan juga kalau anda sangat antusias untuk mendengarkan ceritanya. Setelah itu anda akan merasakan indahnya dikelilingi para cewek.


2. Jangan Banyak Menilai

No Body Perfect. Hal inilah yang kerap dilupakan para cowok (termasuk cewek juga). Siapa sih yang nggak sebel kalau dinilai terus-terusan. Usahakan untuk tidak membandingkan seorang cewek dengan cewek lain, bisa-bisa dia malah kabur.

3. Jangan Mengikat

Suka dan berharap one day ia bakal jadi milik anda boleh-boleh aja. Sah kok .. namun bukan berarti anda boleh mengikatnya. Beri dia ruang gerak, maksudnya jangan keseringan 'berkeliaran' di sekitar dia. Biarin ia menebak dimana anda berada, sedang ngapain dan sama siapa.

Asal tahu saja, ketidakhadiran anda itu, justru bisa menumbuhkan kerinduan dalam dirinya. Ah senengnya kalo lagi dikangenin orang ..

4. Willing

Saat dia bercerita, tunjukkan kesan bahwa anda tertarik dan antusias mendengarkannya. Tunjukkan pula bahwa anda bersedia mendengarkan keluhan dan curahan hatinya. Entah cerita biasa-biasa saja atau masalah keluarga, pekerjaan, hobi, sampai mimpi-mimpinya. Jangan lupa untuk menanggapi cerita-ceritanya dengan pendapat yang brilian, tanpa terkesan menggurui.

5. Senyum

Pepatah bijak mengatakan, "Senyuman adalah senjata ampuh untuk menebar pesona." Bahkan ada yang bilang senyum itu merupakan refleksi diri seseorang yang punya pemikiran positif. Nah, jika anda gemar tersenyum, tularkan kebiasaan ini pada cewek yang ditaksir.

Caranya? Lontarkan gurauan yang akan bikin dia tersenyum. Tapi akan lebih baik lagi jika anda juga membuat teman-temannya atau bahkan keluarganya ikut tersenyum. Hasilnya ia pasti makin terpesona dengan anda. Survei membuktikan 9 dari 10 wanita menyukai cowok yang punya selera humor tinggi.

6. Be The Best

Anda tidak perlu memaksakan diri melakukan hal-hal yang muskil hanya untuk menjadi yang terbaik. Anda cukup memastikan bahwa anda tampil bersih, harum, nafas segar, dan nggak berantakan, cewek pasti banyak yang melirik.

7. Jangan Terlalu Nafsu

Saat lagi PDKT, cobalah tahan hasrat dalam diri. Nelpon? Boleh aja kok, tapi jangan terlalu terlalu sering. SMS or kirim email? Boleh .. tapi jangan ngegombal melulu. Batasi kontak anda dengannya, seperlunya saja. Namun usahakan agar isi pembicaraan cukup bermakna dan membuat dia terpesona.

8. Jual Mahal

Meskipun yakin si cewek udah jatuh hati pada anda atau bahkan udah ngebet banget, coba deh pura-pura nggak butuh atau bisa juga berlagak cuek kalau anda sedang di dekatnya. Dijamin dia bakalan penasaran abis.

9. Buat Dia Penasaran

Bukan rahasia lagi kalo yang namanya cewek itu demen banget dengan segala sesuatu yang bersifat misterius. Maka dari itu di kesempatan pertama, anda tidak usah langsung membuka diri. Beri sedikit informas tentang siapa sebenarnya anda.

Jika anda langsung membuka diri, bisa-bisa dia akan bosan dan merasa tak ada tantangan lagi. Kalau sudah begini sia-sia dong usaha anda. Makanya biarkan rasa ingin tahunya tentang diri anda terus tumbuh dan berkembang. Dengan begitu, dia pun akan selalu berharap untuk bisa mengenal anda lebih jauh lagi.

10. Jangan Sok Akrab

Banyak ccwek lebih memilih menjadi sahabat ketimbang menjadi kekasih. Alasannya adalah karena , dia merasa hubungan dengan anda sudah kelewat dekat, sehingga lebih enak untuk dijadikan teman. Nah, bila anda benar-benar suka sama cewek, sebaiknya jangan dulu sok akrab.


Ok, met mencoba yaa Bro ...

naik vespa kliling kota sampai binaria

setelah lama gak nge pos, nge sop, nge ops, akhirnya bikin lagi…..

dukungan dari seorang kawan lama,…. katanya sih walopun ga ada yg komen, tetep banyak yang baca…….(sok membesarkan hati deh mbak…)

okeh.. back to topik.. begini ceritanya……

pernah ga sih lo tuh ngerasa ga layak jadi orang “itu” buat pasangan lo?

lo ngerti kan maksud gue orang “itu”, untuk jadi orang “itu” bisa pada pandangan pertama, setelah ngobrol atau setelah bersetubuh, atau setelah berantem, atau apalah, but you know, and your heart say itu out loud.. ” yes this is the person that i want to spend my lifetime with”………… and ladies and gentlement buci n femme, orang “itu” adalah pasangan hidup lo…

buat gue, orang yang jadi pasangan hidup gue sangat sial,…… karena gue doyan liat kanan kiri, mending cuma liat, kadang2 bukan cuma mata yg gatel, selain di liat di test juga..

selain itu, gue juga suka marah2, esmosis hehehe, pergi gak pulang2 ngalahin bang toyib, dan suka aneh (kebaca kan dari tulisan gue kl gue aneh), kasian dia deh pokoknya…

dan yang lebih aneh adalah,.. gue ga punya duit buat beliin diamond ring, buat ngisiin dia pulsa, buat biaya dia ke salon, ngopi di starbak, makan donat di jeko,

gue cuma punya vespa butut yang cuma bisa nganter dia sampe binaria…….

abis dari itu, derita banget dah, naek basway eniway tangganya tinggi benerrrrr

tapi dia rela ngejalanin itu sama gue… makan nasi pake soto di depan warnet, banyak debu panas2an, punya duit ceban alias sepuluh ribu….. soto harganya goceng alias lima ribu, nasi harganya 2rb, teh botol harganya 2rb, gue cuma bilang.. ” beib, ini nasi sama soto, kamu makan dagingnya n nasinya, biar aku maakan kuahnya… eeehh tapi minta nasi nya dong dikit”

lo bisa bayangin ga? apa lo tau kalo emang lo manusia yang pas buat dia?

coba sekarang wahai buci n femme, lo ngaca deh.. pasti jelek… eh bukan itu hehehhe

berkaca, apa lo adalah buat dia, apa dengan modal vespa n duit ceban lo bisa bahagiain pasangan lo?

buat gue kebahagiaan absolut adalah ketika lo ngejalanin semua tanpa beban. tanpa lo pikir vespa butut n duit sepuluh ribu.

buat gue saat2 itu adalah masa di mana hmmmm bahasa kerennya “precious time” between lo n dia.

setaon dua taon kemudian, ketika vespa lo udah ganti sama all new jazz matic, n duid di dompet lo udah ganti sama visa master card platinum, tempat soto lo udah ganti sama bistro di hotel mulia, gue yakin………

lagu ini bakal terus terngiang

Pergi di hari Minggu
Bersama pacar baru
Naik vespa kliling kota
Sampai binaria
Hatiku jadi gembira

Sesampainya di sana
Duduk dua-duaan
Makan roti buaya
Dengar lagu kita
Kita menari bersama

Di batang pohon kan kuukir nama kita
Tanda sayang selalu

Sore hari telah menjelang
Saatnya untuk pulang
Vespa mogok di jalan
Turun pula hujan
Berteduh kita di taman

Lihat ‘dik itu melati
Indah nian berseri
Kan ku petik untukmu
Simpan dalam hati
Nanti ku ambil kembali

ps. lagi gak konyol mbak otaknya… hehehee.. lagi romanz………

Naik vespa itu aman

April 15th, 2005

Ya, salah satunya adalah aman dari polisi. Polisi bagi saya adalah monster di jalan. Yang siap merogoh kocek anda. Selain itu, aman dari para penjagal, dan aman dari maling.

Naik vespa

Hari ini, entah kenapa plat nomor jupiter yang ada dibelakang hilang. Saya pikir jatuh. Karena kemarin memang agak-agak mencong posisinya. Akhirnya, vespa, motor pertama kali yang bisa saya kendarai, terpaksa dibawa. Kenapa tak cuek saja membawa jupiter yang tanpa plat nomor itu, ah, saya malas memberi angpaw kepada polisi, dan memang sedang tak ada alokasi dana untuk “kondangan” dengan polisi. Lagipula, polisi sekarang matanya seperti elang, tak bisa melihat salah sedikit saja.

Keadaan vespa yang saya bawa juga tak jauh berbeda, bahkan, lebih parah. Plat nomor didepan tak ada, hanya berada dibelakang saja. Dan satu lagi yang pasti, tak perlu kunci untuk memarkirkannya. Jadi, mau ditaruh dijalan sekalipun, benar-benar tak perlu merasa khawatir, karena memang tak ada yang mau melirik. Pagi tadi saja, satpam yang biasa mencatat nomor plat kebingungan, karena tak ada nomor plat didepannya. Akhirnya, saya suruh dia melihat plat yang belakang. Hihihi…

Reaksi polisi tadi pagi, melirik pun tidak. Ayah saya, yang sehari-hari memakainya, pernah melewati barisan razia motor. Tapi, disuruh berhenti pun tidak, karena vespa butut yang dibawa tak mengundang selera mereka.

Naik jupiter saja tak ada lawan jenis yang melirik, apalagi naik vespa yang tanpa kunci dan bisa dibilang butut itu ya? hihihi… :D

Tips pada saat Hujan (Banjir)

Teman2, berikut trik agar Vespa kita tidak mogok saat melintasi
genangan air (banjir) diwaktu hujan :

1. Lihat dulu ketinggian genangan, jika ketinggian genangan air mencapai kipas (rotor) vespa jangan paksakan untuk menerjangnya, terutama untuk vespa yang tidak ada tutup (seal) pada kipasnya (rotor). Karena air bisa masuk kedalam dan mengenai platina.

2. Jika terpaksa harus melibas genangan air, jalankanlah vespa dgn kecepatan yang sangat rendah (pelan2). Tujuannya adalah agar air tidak muncrat keatas dan mengenai busi.

3. Carilah jalan alternatif. Namun jika sangat terpaksa dan tidak ada jalan lain, serta genangan air tinggi (sampai menutupi mesin) jangan hidupkan mesin vespa dan tuntunlah vespa anda sampai melewati genangan air tersebut. Kemudiaan periksa busi dan keringkan jika ternyata basah karena air.

4. Ingat, rem tromol vespa anda akan nyosor setelah kerendam air. Jadi jalankan vespa pelan2 dengan menginjak pedal rem sampai rem terasa tidak nyosor lagi.

Legenda Vespa

Sebagian motormania sepakat bahwa hanya ada satu jenis sepeda motor yang mereka anggap paling seksi. Vespa-lah kendaraan yanng dimaksudkan. Boleh saja Anda tidak setuju. Tapi, cobalah pandangi tampilan motor buatan Italia itu dengan seksama. Inilah satu-satunya jenis motor yang berbentuk unik, semua bagian 'tubuhnya' cenderung membulat dengan buntut mirip lekuk penari jaipong.

Lalu, karena bentuknya yang khas itulah, Vespa muncul sebagai salah satu motor terpopuler dan bahkan melegenda di dunia. Popularitas Vespa mulai mengila sejak pertengahan tahun 1950-an. Padahal, saat itu usia produk motor beroda kecil ini belum lebih sepuluh tahun. Piaggio, produsen motor ini, mengumumkan telah mampu meperdagangkan lebih dari 15 juta unit motor pada 1956 ke seluruh pelosok dunia.
Paling menarik, sejumlah nama artis beken internasional saat itu sangat akrab dengan nama Vespa. Mereka antara lain adalah John Wayne, Henry Fonda, dan Jean Paul Belmondo. Termasuk juga Ursula Andress yang malahan pernah menjadi bintang iklannya
Lebih seabad silam, tepatnya 1884, Enrico Piaggio pengusaha muda berdarah Italia-- memulai usahanya di bidang pesawat terbang. Dua puluh tahun kemudian, usahanya itu bangkrut. Dasar bersemangat baja dalam dunia bisnis, Piaggio pantang menyerah. Lalu, dimulailah merancang industri alat transportasi dengan alternatif kendaraan niaga ringan.
Maka pada 1945, konstruksi alternatif tersebut ditemukan. Awalnya memang sebuah konsep sepeda motor berkerangka besi dengan lekuk membulat bagai terowong. Mengejutkan, ternyata bagian staternya dirancang dengan menggunakan komponen bom dan rodanya diambil dari roda pesawat tempur.
Hasilnya, munculah pertama kali produk motor dengan seri P108. Kendaraan ini berteknologi sederhana tapi punya bentuk yang amat menarik, bagai binatang penyengat (lebah) karena bentuk kerangkanya. Akibat tampilannya itu, motor ini lebih sering dinyatakan sebagai Wespe atau Vespa, yang artinya memang binatang penyengat.
Guna mengoptimalkan bentuk dan keamanan penggunanya, pabrikan yang kala itu masih terbilang sebagai usaha 'kaki lima' merancang papan penutup kaki pada bagian depan. Proyek ini langsung dipimpin ahli teknik konstruksi terkenal di Italia kala itu, Corradino d'Ascanio.
Karenanya hak paten pun segera dapat mereka kantongi. Namun, karena bentuk penutup pengaman yang bagai papan selancar itu, sejumlah pekerja di pabrik Piaggio pun bahkan mengatakannya sebagai motor Paperino. Harap diingat, Paperino adalah sindiran sinis untuk tokoh Donald Duck (bebek). Maka, d'Ascanio pun putar akal untuk memperbaiki model tersebut.
Perkembangan selanjutnya, produk ini ternyata laris diserap pasar Perancis, Inggris, Belgia, Spanyol, Brasilia, dan India --selain di pasar domestik produk ini laku bagai kacang goreng. Selain itu, India pun memproduksi jenis dan bentuk yang sama dengan mengambil mesin Bajaj. Jenisnya adalah Bajaj Deluxe dan Bajaj Super. Sejumlah pihak lantas mengajukan lamaran untuk joint membuat Vespa. Maka pada 1950 munculah Vespa 125 cc buatan Jerman.
Pada saat itu banyak negara lain yang mencoba membuat produk serupa. Tapi ternyata mereka tak sedikit pun mampu menyaingi Piaggio. Di antara pesaing itu adalah Lambretta, Heinkel, Zundapp, dan NSU. Bagi masyarakat Indonesia, produk Lambretta dan Zundapp, sempat populer di era 1960an.
Selidik punya selidik, fanatisme terhadap Vespa ternyata muncul akibat ciri dasar bentuk motor ini yang selalu dipertahankan pada setiap produk berikutnya. Bahkan saat mereka terbilang melakukan 'revolusi' bentuk pada produk baru, Vespa 150 GS, kekhasan pantat bahenol masih terasa melekat.
Produk 150 GS --kala itu dikenal sebagai Vespamore dan hampir selalu tampil di tiap film tahun 1960-an-- memang kemudi dan lampu sorotnya mulai dibuat menyatu. Tapi, secara keseluruhan apalagi bentuk pantatnya, benar-benar masih membulat dan sekel.
Perkembangan selanjutnya Vespa diarahkan pada bentuk sportif yang nampak pada produknya di tahun 1951. Dan produk tersebut sempat mendapat mendali emas untuk kategori motor Sportif di Eropa. Dan aktualisasi sportif-nya terbukti dengan pecahnya rekor kecepatan 171 km/jam untuk kendaraan Vespa bermesin 125 cc. Dan sejak itulah para Vespamania terlihat sering berkonvoi keluar kota secara berombongan.
Khusus untuk Lambretta, sebenarnya diproduksi lebih tua dari Vespa, tapi sempat terhenti produksinya. Tatkala Vespa berproduksi, Lambretta pun keluar lagi. Hanya saja, posisi mesinnya berbeda dengan Vespa. Vespa bermesin disamping, sedangkan Lambretta ada di tengah. Untuk yang buatan Jerman, jenis scooter-nya bernama NSU Prima. Selain itu, DKW juga memproduksi jenis scooter-nya pula. Ternyata, Jepang pun tak ingin ketinggalan dalam memproduksi motor jenis scooter ini. Di tahun 1960-an, Jepang mengeluarkan jenis scooter Rabit-nya.
Selain Vespa, di Italia ada beberapa produsen motor yang memproduksi jenis scooter ini. Di masa sekarang, bahkan mereka menghasilkan scooter berkecepatan tinggi. Contohnya jenis scooter yang di Italia dikenal Velocivero pabrikan Italjet. Konon, scooter inilah tergolong jenis tercepat di dunia. Kecepatannya melebihi 180 kilometer per jam. Di Indonesia, ada pula jenis seperti ini dipasarkan oleh Aprilia dengan nama Italjet Dragster. Selain itu, Cagivapun kini menelurkan jenis scooter-nya yang dinamakan Cagiva Cucciolo.
Belakangan, sejumlah pabrikan motor kembali membanjiri pasar dengan kendaraan berkapasitas mesin kecil dan cukup laku terserap pasar. Tapi cobalah perhatikan, bentuknya ternyata banyak yang terinspirasi oleh kegenitan atau bahkan keseksian Vespa. Dan kini pun Vespa harus kembali melakukan terobosan, bila ingin kembali populer di tengah pesaingnya.

Sejarah Vespa


Piaggio didirikan pada tahun1884 di Italia oleh Rinaldo Piaggio. Pada awalnya Piaggio adalah pabrikan yang memproduksi peralatan kapal, rel kereta dan gerbong kereta api. Pada saat Perang Dunia Pertama berkecamuk, Piaggio memproduksi pesawat terbang.

Pada akhir Perang Dunia II, pabrik Piaggio di bom oleh pesawat sekutu. Setelah perang usai, Enrico Piaggio mengambil alih Piaggio dari ayahnya (Rinaldo Piaggio). Pada saat itu perekonomian Italia sedang memburuk, Enrico memutuskan untuk mendisain alat transportasi yang murah

Dibantu oleh ahli pesawat terbang Corradino D’Ascanio, Enrico menciptakan sebuah design alat transportasi roda dua dengan inspirasi dan teknologi dari pesawat terbang. Konstruksi suspensi monoshock untuk memudahkan mengganti ban diadaptasi dari roda pesawat terbang, bahkan produk pertamanya benar-benar menggunakan roda depan pesawat terbang. Starter dibuat dari bagian komponen bom, serta bodinya terbuat dari alumunium seperti bodi pesawat terbang.

Menurut berbagai sumber, Vespa di produksi pertama kali pada tahun 1945. Kata ”Vespa” berasal dari kata ”Wesp” yang berarti ”binatang penyengat atau lebah”. Memang konstruksi Vespa jika dilihat dari atas terlihat seperti lebah.

Dalam perkembangannya, Vespa tidak hanya di pasarkan di Italia, tetapi juga laris di Perancis, Inggris, Jerman, Spanyol, Brasil serta India. Karena minat konsumen yang begitu besar, Vespa juga di prosuksi di Jerman dan Inggris.

Selain Vespa, pada masa itu juga lahir berbagai merek kendaraan roda dua jenis ini, seperti Lambreta, Zundap, Heinkel, NSU, Hummel. Akan tetapi yang hingga saat ini eksis di Indonesia adalah Vespa dan disusul oleh Lambretta

Sejarah Vespa di Indonesia

Sebenarnya penulis sendiri tidak tahu persis kapan pertama kali Vespa masuk ke Indonesia. Mencoba mencari referensi ke beberapa narasumber pun tidak membuahkan hasil yang konkret. Masing-masing narasumber mempunyai keterangan yang berbeda-beda, akan tetapi mereka mempunyai persamaan persepsi, bahwa “Demam Vespa” di tanah air sangat di pengaruhi oleh “Vespa Congo”. Vespa diberikan sebagai Penghargaan oleh Pemerintah Indonesia terhadap Pasukan Penjaga Perdamaian Indonesia yang bertugas di Congo saat itu.

Menurut beberapa narasumber, setelah banyak Vespa Congo berkeliaran di jalanan, mulailah Vespa menjadi salah satu pilihan kendaraan roda dua di Indonesia. Importir lokal turut mendukung perkembangan Vespa di tanah air.

Sampai saat ini sudah puluhan varian Vespa yang mampir di Indonesia. Dari yang paling tua hingga yang paling baru ada di Indonesia. Bahkan teman saya dari Philipina menyebut bahwa Indonesia adalah surganya Vespa. Sampai saat ini mungkin masih bisa disebut sebagai surganya Vespa. Maraknya ekspor Vespa, sedikit banyak mengurangi populasi Vespa di Indonesia.

SCOOTER LOVE

Di saung ini, mungkin keseratus kalinya aku memandangnya tajam. Dalam. Tapi curi-curi. Dia tak tahu. Atau, mungkin saja dia tahu, tapi tak peduli. Ya sudah, aku pun tak peduli. Selama ketenangannya masih mengizinkan mataku menatapnya.

Pagi tadi.

Aku merasa cantik sekali. Yaa, bilang saja aku narsis atau apapun. Yang jelas, tak dapat kupungkiri bahwa aku memang memesona, meski tanpa polesan bedak dan blush on. Ataupun bingkai penuh sebuah eye liner, mascara, dan teman-temannya. Aku merasa cantik. Tahukah kalian, mengapa? Karena pagi ini aku bahagia. Aku penuh cinta. Itu saja cukup untuk membuatku merasa cantik.

Untuk merayakan ulang tahunku, ia mengajakku ke Lembang. Sekedar mentraktirku makan jagung bakar dan sate kelinci, katanya. Bukankah itu menyenangkan, heh? Meski sekedar menikmati makanan sederhana, tetapi dengan seseorang yang amat berarti untukmu. Mungkin kau akan menganggapku sedang terbutakan oleh cinta, sehingga tahi bisa terasa seperti cokelat. Bah! Tentu saja aku tak seperti itu. Jagung bakar kan bukan tahi…

Ia menjemputku dengan vespa birunya. Vespa yang dimodifikasinya di berbagai sisi, sehingga terlihat unik. Vespa yang begitu dicintainya, yang katanya dimilikinya sejak ia masih kuliah di semester empat, empat tahun yang lalu, hasil dari kerja magangnya di berbagai tempat. Vespa yang konon membuatnya selalu merasa hidup dan bergairah setiap membuka mata di pagi hari. Ooh, andai saja ia tahu bahwa seberharga itulah ia untukku. Seperti ia mencintai vespanya yang tak bernyawa itu.

Dingin ya?” pertanyaan bodohku memecah keheningan. Tentu saja bodoh. Dari dulu juga perjalanan menuju Lembang memang dingin. Yaa, habis aku tak tahu lagi harus bicara apa. Dari tadi ia hanya diam, dan berkonsentrasi penuh pada jalan di depannya.

Hmmh…” Cuma itu yang keluar dari mulutnya. Padahal yang ada di kepalaku (selain kalimat ‘dingin ya’) tadi itu adalah, bisa nggak sih ia menyuruhku memeluknya dari belakang, untuk mengusir rasa dingin ini?? Tapi, alih-alih menyuruh memeluk, memerhatikanku saja tidak. Oh Tuhan, mengapa tak kau hadirkan saja aku ke dunia ini sebagai motor vespa miliknya??

Jalannya nanjak banget ya? Aku nggak bakalan merosot, nih?”

Nggak laaah…”

Yaa, kalaupun aku merosot dari vespa ini, sebelum pergi tadi ibuku sudah melihat wajahmu. Dan suara cerewetnya akan mencecarmu begitu tahu puteri sulungnya membawa serta luka di tubuhnya setelah kau ajak pergi.” Jawabku sambil pura-pura tak menatapnya. Ia melihat ke arahku melalui spion vespanya. Aku tahu itu. Aku dapat merasakannya, meski hanya melihatnya dengan ekor mata saja.

Ia tersenyum. Hanya tersenyum. Tapi sungguh, hatiku bergemeletar melihatnya! Bagaimana cara mengungkapkannya yaa? Pernahkah kau merasakan cinta monyet? Cinta yang bisa membuatmu tersenyum malu-malu saat melihat namanya di daftar absen kelas, atau membuatmu merasa dekat hanya dengan melihat pagar rumahnya? Nah, mungkin seperti itulah rasanya. Ketika sesuatu yang amat sederhana menyentuh perasaan. Sesuatu yang amat sederhana, yang bisa jadi sangat mahal karena diberikan oleh seseorang yang selalu kau puja.

Ia menghentikan motornya.

Kenapa? Habis bensin?”

Ia membuka jaketnya.

Nih, pakai. Nanti kalau kau masuk angin, bertambahlah dosaku di mata ibumu.” Katanya, tulus. Tanpa mata yang mengedik nakal, tanpa nada suara yang menyindir. Tanpa tendensi apa-apa. Ia hanya tersenyum. Senyum yang lagi-lagi meluluh-lantakkan seluruh persendian.

Cuma untuk ini kau berhenti?”

Ayo naik lagi.”

Aku sedikit kecewa. Kupikir akan ada aksi-aksi selanjutnya. Apapun itu. Yang penting darinya, tak akan kutolak.

Perlahan vespa birunya berjalan lagi, menuju Lembang. Menuju dingin yang menusuk. Aku tak dapat menahannya lebih lama. kulingkarkan tanganku di pinggangnya. Ia terlihat salah tingkah. Beberapa kali memandangku dari spionnya. Tapi, ia tak menolaknya. Atau melepaskan pelukanku. Maka aku pun mengeratkan pelukan itu. Sambil menyandarkan kepalaku di punggungnya. Aku menikmatinya…Sambil berharap ia pun menikmatinya.

Ada tetesan air menyentuh hidungku dengan lembut. Makin lama makin banyak. Oh tidak! Hujan menyapu seluruh khayalanku. Padahal kami bahkan belum sampai di Lembang. Kenapa sih aku tak boleh menimati indahnya perasaan ini? Sebuah perasaan nyaman dan terlindungi. Perasaan ingin memiliki dan dimiliki. Perasaan…ah aku bahkan tak boleh meski hanya mengkhayal.

Jadi, baiklah…Aku ikuti saja saat ia berhenti di sebuah pos ronda.

Perjalanan kita terpaksa tertunda. Daripada nanti kau sakit.” Ujarnya, masih disertai dengan senyum. Aku sudah tak mampu tersenyum. Hari ini aku tak suka hujan. Ia telah merenggut khayalku.

Area perkebunan yang luas terhampar di depan kami. Memberikan bau harum kesejukan.

Aku jadi ingat abang-abangku.” Ucapnya selewat. Jika saja aku tak berkonsentrasi padanya, pastilah gumamannya itu hanya akan pergi bersama angin yang kebetulan berhembus. Atau, memang ia hanya berniat mengenang, dan bukan memberi suatu informasi untukku? Apapun alasannya, kalimatnya mau tak mau sudah terlanjur terdengar.

Ada apa dengan abang-abangmu? Ummh…memangnya kau punya berapa abang?”

Dua. Eh, sebetulnya tiga. Tapi, yang dua itu saja yang akrab denganku, karena perbedaan usia kami yang hanya terpaut dua tahun.” Ucapannya terhenti sejenak. Ia membetulkan duduknya di bangku bambu pos ronda.

Dulu, kami tinggal di kampung. Kalau hujan seperti ini kami masih suka berlarian di sawah dekat rumah.”

Ngapain?”

Banyak. Kadang sekedar menikmati hujan. Kadang juga kami diiizinkan untuk mengambil ikan-ikan kecil di tambak. Enak sekali. Pasti kau belum pernah makan ikan-ikan kecil yang kau jaring sendiri dari tambak.” Tebaknya. Dan ia memang betul. Untuk apa aku berlari-lari di sawah dan menjaring ikan kecil di tambak? Jika aku bisa mendapatkan versi sudah matang-mengepulnya di meja makan… Tapi baiklah, kuikuti saja kalimat-kalimatnya.

Di dekat rumahku juga ada sungai kecil. Dulu, airnya masih jernih. Aku dan kedua abang kembarku itu suka menjadikannya sebagai tempat piknik yang menyenangkan sepulang sekolah. Jika cuaca sedang terik, kami main nyemplung saja ke dalamnya, dan membiarkan baju seragam kami di atas bebatuan. Dan haaa…haaa… pernah sekali bajuku tertiup angin. Lalu, ia menyangkut di dahan pohon. Tak terlalu tinggi memang, jadi bisa kugapai tanpa harus memanjatnya. Tapi, dasar ceroboh. Aku malah membuatnya terkoyak. Setibanya di rumah, aku takut ibuku akan marah-marah. Maka aku diam saja dan berlaku sebagai anak termanis di dunia. Aku tak bilang apa-apa. Kugantung baju seragamku seperti biasa pada paku di balik pintu kamar.” Kalimat-kalimat panjang itu mengalir dari mulutnya, tanpa bisa kucegah. Aku menyukainya. Jarang sekali ia bisa bercerita sepanjang ini padaku.

Lalu, selama apa kau bisa menyembunyikan koyaknya dari ibumu?”

Tak lama.” matanya kembali menerawang. “Perempuan perkasa itu menemukannya di malam hari, saat ia sudah menyelesaikan pesanan-pesanan jahitan tetangga.”

Aku melirik ke arahnya.

Beliau perkasa karena…Menurutku karena tak pernah mengeluh meski harus bekerja keras membantu ayahku menghidupi keluarga besar kami. Ibu berjualan dengan sepedanya keliling kampung pada pagi sampai siang hari. Lalu beliau akan menyiapkan makan siang untuk anak-anaknya yang baru pulang sekolah. Setelah mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, barulah disentuhnya kain-kain pesanan yang menumpuk di atas mesin jahit tuanya.”

Tepat, ia seolah bisa menjawab pertanyaan akan sosok perempuan perkasa yang ingin kutanyakan padanya.

Rasanya aku kangen ibuku. Hey! Asyik ya, kalau bisa bertemu ibu setiap hari?”

Aku diam.

Luna…??” ia mengibaskan telapak tangannya di depan wajahku. Membuatku tersadar dari lamunan singkat.

Ummh…hyaa…begitu lah rasanya. Kadang menyenangkan, kadang menjemukan.”

Jemu? Ah masa? Bukannya saat-saat bersama ibu merupakan saat terindah dalam hidup seorang anak? Saat-saat ia bisa kembali menjadi anak-anak, setua apapun usianya. Karena bisa bermanja-manja, berbagi kebahagiaan…”

Ibuku cerewet sekali. Jadi, kadang aku bosan mendengar segala nasehatnya. Seringkali ibuku tak dapat membedakan apakah aku ini empat tahun, atau dua puluh tahun lebih tua dari itu.” Ucapku, agak terburu-buru.

Oooh…wajarlah. Semua ibu memang begitu. Tujuannya hanya satu, tak ingin anaknya salah langkah. Apalagi jika puterinya begitu cantik sepertimu.”

Aku tersenyum manis. Kali ini aku berharap, senyumku bisa membuatnya terbang ke langit ketujuh, seperti yang ia lakukan berulangkali terhadapku.

Sedetik kemudian, saat ia tak lagi memerhatikan senyumku, manisnya berubah menjadi pahit. Getir. Ah yaa, andai saja ibuku memang cerewet. Andai saja ibuku memang mencerewetiku seperti pada anak-anak umur empat tahun setiap harinya. Aku rela, sungguh! Akan kuturuti semua kecerewetannya.

Tapi sayang, ibuku tak seperti itu. Yang kukatakan di hadapannya tadi hanya dusta. Jangankan cerewet, beberapa kalimat pendek setiap malam saja sudah bagus jika sempat terucap dari mulutnya sebelum ia tidur.

Kalimat pendek. Ya, hanya kalimat pendek! Itulah mengapa aku tak suka pada orang yang jarang berbicara. Aku mengasumsikannya sama dengan ibuku. Ibuku yang sudah terlalu letih mendesah. Ibuku yang sudah tak sanggup lagi mengeluarkan suara dari mulutnya, karena terlalu banyak merayu, merenda kata-kata birahi berbalut cinta. Berlapis niatnya untuk tetap dapat menghidupi anak-anaknya.

Singkat kata, aku merasa bahwa mereka yang tak berbicara banyak padaku, pastilah tak punya cukup sayang untukku.

Hujan sudah reda. Yuk kita teruskan. Pemandangan di atas sana lebih bagus, kok. Udaranya juga pasti lebih sejuk.”

Hmmm…ia pasti berpikir bahwa aku sedang menikmati pemandangan pesawahan ini. Tak buruk. Daripada ia tahu isi kepalaku yang sesungguhnya.

Kami berhenti di sebuah rumah makan sederhana.

Mau makan apa? Aku mau sate kelinci.”

Aku…burung dara goreng saja.”

Ia memesankan kedua menu tersebut pada seorang perempuan separuh baya yang sebelum kedatangan kami terlihat sedang mengobrol dengan perempuan lainnya yang sepertinya berusia sama.

Kami berjalan menuju salah satu saung kecil di rumah makan itu.

Bagaimana kuliahmu?” tanyanya sambil menyeruput susu murni rasa cokelat dalam gelas besar.

Yaa, mudah-mudahan bulan depan aku bisa mengajukan sidang, sebelum deadline-nya habis.”

Bagus. Jadi kau bisa cepat lulus dan… ambil S-2 atau bekerja?”

Tidak tahu.”

Kok begitu?”

Keduanya tak menarik minatku.”

Lantas?”

Mungkin aku akan terus menulis. Siapa tahu ada penerbit yang tertarik membukukan puisi-puisiku.”

Ummh…ide bagus. Coba saja ajukan.”

Nanti ditolak?”

Kau tak akan pernah tahu sampai kau mencobanya.”

Aku tersenyum simpul mendengar kalimat bijak itu. Jika saja bukan ia yang mengucapkannya, aku mungkin akan langsung bilang, ‘huh, ngomong memang gampang!’ tapi yang mengucapkannya ia, seseorang yang kukagumi karena kemampuannya bertahan dari berbagai kesulitan hidup. Mulai dengan mengamen untuk membayar biaya kuliahnya, hingga kerja serabutan di berbagai instansi yang membutuhkan tenaga kerja part time mahasiswa berotak cerdas-namun membayar gajinya setengah dari karyawan full time.

Aku suka deh lihat senyummu kalau cuma setengah begitu.”

Hah? Masa sih? Apa bagusnya?”

Nggak bagus, tapi unik. Jarang-jarang ada perempuan yang suka tersenyum separuh begitu. Kebanyakan dari mereka yang pernah kulihat, lebih sering tersenyum penuh. Kau mengingatkanku pada Monalisa.”

Gombal. Tapi aku suka.

Benakku kembali dipenuhi dengan khayalan. Andai saja di sini ia mengucapkannya. Mengucapkan sebuah kalimat yang didambakan oleh banyak perempuan seusiaku. Okelah, mungkin terlalu berlebihan jika aku mengharapkan ia mengucapkan ‘maukah kau menikah denganku?’. Tapi, sekedar kalimat, ‘jadilah kekasihku…’ rasanya ingin aku dengar dari mulutnya. Ditemani dengan burung dara goreng, susu strawberry, dan cuaca yang berkabut begini. Rasanya semua akan sempurna jika ia tiba-tiba menggenggam tanganku, menciumnya, dan mengucapkan itu. Oh Tuhan, aku akan langsung mengangguk secepat aku bisa. Agar ia tahu aku sungguh-sungguh menginginkannya.

Ia menatapku.

Aku salah tingkah.

Ia memegang telapak tanganku.

Oh oh…jantung, tolong jangan pamit sekarang. Biarkan aku menikmati sensasi ini, dan menunggu kelanjutannya.

Luna…” ia semakin kuat menggenggam tanganku, dan menyentuh punggung tanganku dengan tangan kirinya. Jantungku semakin bertingkah. Menggelepar. Ayo ucapkan…Ayo…Atau, haruskah kupejamkan mata agar ia tak merasa gugup?? Baiklah. Akupun memejamkan mata perlahan.

Selamat ulang tahun yang ke-duapuluh-empat ya Luna! Semoga cepat lulus kuliahmu, amin!”

Harapan…khayalan…dan keinginanku hancur menjadi kepingan-kepingan, yang tak ingin kuambil. Biar saja mereka terserak di lantai saung ini.

Vespa 1972



Pertama kali bisa dan naik dan satu satunya motor yang pernah saya pakai sehari hari adalah Vespa. 1988 waktu dipanggil kerja untuk jadi Med Rep (detailer- itu yg suka nongkrong di tempat praktek dr promosiin obat) di Warner Lambert, ditanya bisa naik motor gak? Gue jawab bisa (padahal kagak) jadi setelah selesai training gue cepet2 belajar naik Vespa (kendaraan resmi Med Rep Indonesia). Sempet nabrak tukang blewah di jl Proklamasi dll. Vespa pertama itu jenis PS 1986, setahun kemudian di ganti PX 1988.
Kemudian sejak lebih banyak ber bisnis di deket rumah, terpikir untuk punya motor supaya lebih irit dan tidak mengganggu lahan parkir di TX maupun di proAKTIV. Pilihan nya Vespa tua dengan alasan murah dan lebih stylish dan satu2nya motor yang pernah di pake.
Setelah sebulan mencari akhirnya di bengkel pak Rahmat saya menemukan Vespa ini, tahun 1972 (1,2 juta). Masih pengen nyari yang tahun 1964, supaya seumur sama gue. Rencana nya sih ini Vespa mau gue restorasi, cetnya mau di balikin ke warna aslinya biru muda (telur asin), cariin kaca spionnya dll.
Wikipedia:
he name Vespa

"Sembra una vespa!" ("It looks like a wasp!") exclaimed Piaggio president Enrico Piaggio when he first laid eyes on what would become the most successful scooter of all time. The name stuck [1].

Vespa is both Latin and Italian for wasp—derived from both the high pitch noice of the two-stroke engine, and adopted as a name for the vehicle in reference to its body shape: the thicker rear part connected to the front part by a narrow waist, and the steering rod resembled antennae.

Ape (pronounced Ah-pay), is Italian for bee. This was the three-wheeled variant used for commercial purposes, including the popular auto rickshaw.

In 1952, Audrey Hepburn side-saddled Gregory Peck's Vespa in the film Roman Holiday for a ride through Rome, resulting in over 100,000 sales. In 1956, John Wayne dismounted his horse in favor of the two-wheeler to originally get between takes on sets. By the end of the fifties, Lucia Bosé and her husband, the matador Dominguin, as well as Marlon Brando, Dean Martin, and the entertainer Abbe Lane had become Vespa owners. William Wyler filmed Ben Hur in Rome in 1959, allowing Charlton Heston to abandoned horse and chariot between takes to take a spin on the Vespa.